RSS

Tanggung Jawab Seorang Laki-Laki

06 Des

Suatu ketika, ada seorang anak perempuan bertanya kepada Ayahnya, tatkala tanpa sengaja ia melihat Ayahnya sedang mengusap wajahnya yang mulai berkerut-merut. Badannya yang sudah tak muda lagi disertai suaranya yang terbatuk-batuk. Anak wanita itu bertanya pada ayahnya, “Ayah, mengapa wajah Ayah kian berkerut-merut dan badan Ayah kian hari kian terbungkuk?” Demikian pertanyaannya, ketika Ayahnya sedang santai di beranda.

Ayahnya menjawab, “Sebab aku Laki-laki.”. Anak perempuan itu berguman,” Aku tidak mengerti…” dengan kerut-kening karena jawaban Ayahnya membuatnya tercenung rasa penasaran. Ayahnya hanya tersenyum, lalu dibelainya rambut anak perempuannya itu. Sambil menepuk-nepuk bahunya, Ayahnya lalu mengatakan, “Anakku, kamu memang belum mengerti tentang Laki-laki.”. Demikian bisik Ayahnya, membuat anak wanita itu tambah kebingungan.

Karena penasaran, kemudian anak perempuan itu menghampiri Ibunya lalu bertanya, “Ibu mengapa wajah Ayah menjadi berkerut-merut dan badannya kian hari kian tua? Dan sepertinya Ayah mengalaminya tanpa ada keluhan dan rasa sakit?”. Ibunya menjawab, “Anakku… jika seorang Laki-laki benar-benar bertanggung jawab terhadap keluarga, memang akan terjadi demikian.”. Hanya itu jawaban sang Bunda.

Anak perempuan itupun kemudian tumbuh menjadi dewasa, tetapi dia tetap saja penasaran. Hingga pada suatu malam, anak perempuan itu bermimpi. Di dalam mimpi itu, ia seolah-olah mendengar suara yang sangat lembut, namun jelas sekali. Ternyata, kata-kata yang terdengar dengan jelas itu adalah suatu rangkaian kalimat jawaban atas rasa penasarannya selama ini.

“Saat Kuciptakan Laki-laki, aku membuatnya sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga dari bangunan keluarga. Dia akan senantiasa menahan setiap ujungnya, agar keluarganya merasa aman, teduh dan terlindungi.”


“Kuciptakan bahunya yang kekar & berotot untuk membanting tulang menghidupi seluruh keluarganya. Kegagahannya harus cukup kuat pula untuk melindungi seluruh keluarganya.”


“Kuberikan kemauan keras padanya agar selalu berusaha mencari sesuap nasi yang halal dan bersih yang berasal dari tetesan keringatnya sendiri; agar keluarganya tidak terlantar, walaupun seringkali dia mendapatkan cercaan dari istri dan  anak-anaknya itu.”


“Kuberikan keperkasaan & mental baja yang akan membuat dirinya pantang menyerah. Demi keluarganya dia merelakan kulitnya tersengat matahari. Demi keluarganya dia merelakan badannya basah kuyup dan kedinginan tersiram hujan dan dihembus angin. Dia relakan tenaga perkasanya terkuras demi keluarganya. Yang selalu dia ingat adalah saat semua orang menanti kedatangannya dengan mengharapkan hasil dari jerih payahnya.”


“Kuberikan kesabaran, ketekunan serta keuletan yang akan membuat dirinya selalu berusaha merawat & membimbing keluarganya tanpa keluh kesah, walaupun di setiap perjalanan hidupnya letih dan sakit berkali-kali menyerang.”


“Kuberikan perasaan keras namun gentle untuk berusaha berjuang demi mencintai keluarganya, di dalam kondisi & situasi apapun, walaupun tidak jarang anak-anaknya melukai perasaannya, melukai hatinya. Padahal perasaannya itu pula yang telah memberikan perlindungan rasa aman saat anak-anaknya tertidur lelap. Serta sentuhan perasaannya itulah yang memberikan kenyamanan bila saat dia sedang menepuk-nepuk bahu anak-anaknya agar selalu saling menyayangi & mengasihi sesama saudara.”


“Kuberikan kebijaksanaan & kemampuan padanya untuk memberikan pengetahuan dan menyadarkan, bahwa Istri yang baik adalah istri yang setia terhadap suaminya. Istri yang baik adalah istri yang senantiasa menemani dan bersama-sama menghadapi perjalanan hidup, baik suka maupun duka, walaupun seringkali kebijaksanaannya itu akan diuji oleh istrinya, agar tetap berdiri, bertahan, sejajar & saling melengkapi serta saling menyayangi.”

Nuh as dan Istrinya

“Kuberikan kerutan diwajahnya agar menjadi bukti bahwa laki-laki itu senantiasa berusaha berpikir sekeras-kerasnya untuk mencari dan menemukan cara agar keluarganya bisa hidup dalam kebahagiaan. Kuberikan bungkuk di badannya agar dapat membuktikan, bahwa sebagai laki-laki yang bertanggung jawab terhadap keluarganya, senantiasa berusaha mencurahkan sekuat tenaga segenap perasaan, kekuatan dan keuletannya demi kelangsungan hidup keluarganya.”


“Kuberikan kepada Laki-laki tanggung jawab penuh sebagai pemimpin keluarga, sebagai tiang penyangga, agar dapat dipergunakan dengan sebaik-baiknya. dan hanya inilah kelebihan yang dimiliki oleh laki-laki, walaupun sebenarnya tanggung jawab ini adalah Amanah di dunia dan akhirat.”


Terbangun anak wanita itu, dan segera dia berlari, berlutut dan berdoa hingga menjelang subuh. Setelah itu dia hampiri bilik Ayahnya yang sedang berdoa, ketika Ayahnya berdiri anak wanita itu merengkuh dan mencium telapak tangan Ayahnya. “AKU MENDENGAR & MERASAKAN BEBANMU, AYAH.”

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 6, 2010 in Yuli Bicara Tentang Laki-laki

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: